|
UPAYA PENYELAMATAN INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU
INDONESIA DITINJAU DARI SUDUT KETERSEDIAAN BAHAN BAKU
Muh. Yusram Massijaya
Staf Pengajar Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB
I. PENDAHULUAN
Saat ini industri pengolahan kayu Indonesia sedang menghadapi
berbagai masalah. Masalah yang dirasakan paling mengganggu dan harus sesegera
mungkin disikapi dan dicarikan jalan keluarnya adalah semakin menipisnya
cadangan sumberdaya kayu, serta ketidakseimbangan antara demand dan supply hasil
hutan kayu sebagai akibat dari kebijakan pengelolaan hutan dan pengembangan
industri perkayuan yang tidak singkron dimasa-masa lalu.
Keseluruhan persoalan yang dihadapi oleh industri pengolahan
kayu baik secara parsial maupun nasional harus dicarikan jalan terbaik agar bisa
keluar dari krisis tersebut di atas. Salah satu faktor penting yang perlu
dilakukan adalah efisiensi bahan baku karena selain sumberdaya hutan yang
semakin langka, harga kayu yang semakin mahal, juga karena tekanan dunia
internasional yang menghendaki agar seluruh produk industri perkayuan yang
dihasilkan dari hutan yang dikelola secara lestari dan berkesinambungan (sustainable
forest management).
Salah satu upaya yang paling mungkin dilakukan untuk
mengamankan bahan baku industri pengolahan kayu secara nasional adalah melakukan
realokasi pemanfaatan sumberdaya kayu yang dimiliki dan diupayakan dapat
menghasilkan nilai devisa yang optimal. Fakta di Jepang menunjukkan bahwa banyak
industri pengolahan kayu yang dapat berkembang dengan baik meskipun menggunakan
bahan baku dari Papua New Guinea, Malaysia, Selandia Baru dan Rusia. Hal ini
dapat terwujud karena tingkat efisiensi, teknologi dan penguasaan pasar bagi
industri-industri tersebut sangat baik. Sangat diharapkan pemerintah Indonesia
dapat merumuskan kebijakan baru yang dapat membantu industri pengolahan kayu
tumbuh dan berkembang menjadi industri yang tangguh tanpa merusak sumberdaya
alam (hutan) secara significant.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan paper ini untuk
memberikan masukan kepada para pengambil keputusan serta mencoba menganalisis
dan memberikan solusi masalah ketimpangan antara demand dan supply hasil hutan
kayu serta kearah mana seharusnya industri pengolahan kayu Indonesia
dikembangkan agar efisiensi pemanfaatan bahan baku dapai dicapai, demand
terpenuhi serta perolehan devisa melalui hasil hutan kayu dapat dioptimalkan.
II. KESENJANGAN ANTARA DEMAND DAN SUPPLY BAHAN
BAKU
Saat ini kondisi hutan alam sebagai penghasil utama kayu
sedang dipertanyakan kemampuannya memasok bahan baku kayu yang dibutuhkan oleh
industri perkayuan nasional secara kontinu dan memadai, sementara HTI yang
sangat diharapkan diragukan keberhasilannya. Hal ini cukup beralasan karena
diduga pengelolaan hutan alam selama ini dianggap belum memenuhi kriteria azas sustained
yield forest management serta tingginya pengaruh intervensi pihak-pihak lain
yang menyebabkan kerusakan hutan alam yang cukup tinggi di beberapa daerah.
Bahkan setelah era reformasi, tuntutan masyarakat sekitar hutan serta tindakan
penguasaan hutan menunjukkan frekwensi yang meningkat cukup tajam dengan skala
yang semakin besar.
Hasil penelitian LP IPB bekerjasama dengan Direktorat
Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi Departemen Kehutanan dan Perkebunan pada
tahun 2000 menunjukkan dengan jelas kesenjangan antara demand dan supply bahan
baku kayu untuk industri pengolahan kayu pada berbagai skenario (Tabel 1).
Tabel 1. Prakiraan kekurangan bahan baku industri pengolahan
kayu Indonesia pada tahun 2000 - 2018 (dalam jutaan m3).
|
No.
|
Tahun
|
Prakiraan Supply
|
Prakiraan
|
Selisih Supply Demand
|
|
Optimis
|
Moderat
|
Pesimis
|
Demand
|
Optimis
|
Moderat
|
Pesimis
|
|
(a)
|
(b)
|
(c)
|
(d)
|
(e)
|
(f)
|
(c-f)
|
(d-f)
|
(e-f)
|
|
1
|
2000
|
37.9
|
28.4
|
20.4
|
44.3
|
-6.4
|
-15.9
|
-23.9
|
|
2
|
2001
|
38.0
|
28.5
|
20.3
|
45.8
|
-7.8
|
-17.3
|
-25.5
|
|
3
|
2002
|
38.1
|
28.5
|
20.3
|
47.4
|
-9.3
|
-18.9
|
-27.1
|
|
4
|
2003
|
38.4
|
28.5
|
20.3
|
49.2
|
-10.8
|
-20.7
|
-28.9
|
|
5
|
2004
|
42.3
|
28.6
|
21.7
|
51.0
|
-8.7
|
-22.4
|
-29.3
|
|
6
|
2005
|
42.7
|
31.0
|
21.8
|
53.0
|
-10.3
|
-22.0
|
-31.2
|
|
7
|
2006
|
43.1
|
31.2
|
21.9
|
55.1
|
-12.0
|
-23.9
|
-33.2
|
|
8
|
2007
|
43.3
|
31.5
|
21.9
|
57.4
|
-14.1
|
-25.9
|
-35.5
|
|
9
|
2008
|
43.4
|
31.5
|
24.8
|
59.9
|
-16.5
|
-28.4
|
-35.1
|
|
10
|
2009
|
51.3
|
31.6
|
24.8
|
62.6
|
-11.3
|
-31.0
|
-37.8
|
|
11
|
2010
|
52.0
|
36.2
|
25.0
|
65.6
|
-13.6
|
-29.4
|
-40.6
|
|
12
|
2011
|
52.6
|
36.7
|
25.2
|
68.8
|
-16.2
|
-32.1
|
-43.6
|
|
13
|
2012
|
53.2
|
37.1
|
25.3
|
72.3
|
-19.1
|
-35.2
|
-47.0
|
|
14
|
2013
|
53.5
|
37.4
|
25.3
|
76.1
|
-22.6
|
-38.7
|
-50.8
|
|
15
|
2014
|
54.2
|
37.5
|
25.6
|
80.2
|
-26.0
|
-42.7
|
-54.6
|
|
16
|
2015
|
55.7
|
38.0
|
26.0
|
84.7
|
-29.0
|
-46.7
|
-58.7
|
|
17
|
2016
|
56.7
|
39.0
|
26.3
|
89.5
|
-32.8
|
-50.5
|
-63.2
|
|
18
|
2017
|
57.6
|
40.2
|
26.6
|
94.7
|
-37.1
|
-54.5
|
-68.1
|
|
19
|
2018
|
58.0
|
40.4
|
26.6
|
100.2
|
-42.2
|
-59.8
|
-73.6
|
Sumber : Marimin et al., 2000. Lembaga
Penelitian IPB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan
Produksi Departemen Kehutanan dan Perkebunan (data diolah).
Berdasarkan data hasil perhitungan di atas maka dapat dilihat
bahwa kesenjangan antara demand dan supply kayu bulat Indonesia cukup besar dan
ada kecenderungan semakin lama semakin besar. Diyakini kesenjangan bahan baku
yang terjadi saat ini di lapangan jauh lebih besar dibandingkan dengan
angka-angka yang tercantum pada Tabel 1 di atas.
Masalah kesenjangan bahan baku juga dapat diduga dari
rendahnya tingkat pemanfaatan kapasitas industri pengolahan kayu di Indonesia
yang berkisar 69% untuk industri kayu lapis, 37 % untuk industri penggergajian,
9% untuk industri moulding dan bahan bangunan, dan 37 % untuk industri mebel.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dipastikan bahwa saat
ini industri pengolahan kayu Indonesia sedang mengalami kekurangan bahan baku
serta dapat dipastikan pula bahwa kondisi ini masih akan berlangsung dimasa-masa
mendatang, bahkan akan semakin parah jika tidak dilakukan upaya-upaya untuk
menanggulangi masalah tersebut.
Berikut ini disampaikan beberapa upaya yang dapat dilakukan
dalam rangka mengatasi kesenjangan antara demand dan supply kayu bulat di
Indonesia :
-
Dalam rangka meningkatkan supply bahan baku kayu, maka
diupayakan agar HPH mau melakukan pemanenan kayu dengan menggunakan metode full
tree utilization. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan volume
limbah kayu yang terjadi di lapangan sangat besar, bahkan diduga mencapai 60
juta m3/tahun (Massijaya et al., 1999). Limbah kayu ini ditinjau dari sudut
teknologi sangat layak digunakan sebagai bahan baku industri pulp and paper,
MDF, papan partikel, papan sambung, mebel dan moulding.
-
Memanfaatkan jenis-jenis kayu yang tergolong lesser used
species / lesser known species. Sampai saat ini jenis-jenis kayu yang
dimanfaatkan masih sangat terbatas, sedangkan ribuan jenis lainnya belum
dimanfaatkan dengan baik. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
jenis-jenis kayu yang tergolong lesser used species memiliki sifat-sifat
yang sangat baik digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu.
-
Memanfaatkan jenis-jenis kayu berdiameter kecil (kurang
dari 50 cm). Penelitian CIRAD (1998) di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa
struktur hutan didominasi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae (24,14%),
Euphorbiaceae (13,51%), Sapotaceae (6,36%) dan sisanya merupakan jenis
campuran dari 43 famili (55,99%) yang tergolong jenis-jenis kayu berdiameter
kecil (small-diameter logs). Jenis-jenis kayu ini secara genetis dan ekologi
tidak akan pernah mencapai diameter batas minimal yang diperkenankan untuk
dipanen oleh TPTI (50 cm).
-
Alternatif pemenuhan bahan baku kayu untuk industri
pengolahan kayu dapat dipenuhi melalui impor kayu bulat. Tingginya harga
kayu bulat di pasaran internasional akan memaksa industri pengolahan kayu
meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan baku. Alternatif ini hanya akan
berhasil jika pengamanan hutan dapat dilakukan dengan baik sehingga illegal
cutting dan unreported cutting dapat dieliminir dengan baik.
-
Rasionalisasi industri pengolahan kayu. Industri
pengolahan kayu Indonesia yang menjadikan industri kayu lapis sebagai
primadona dimasa-masa mendatang sangat sulit dilakukan mengingat kondisi
bahan baku yang kita miliki semakin menurun. Seharusnya pengembangan
industri pengolahan kayu diarahkan kepada industri yang memiliki spektrum
bahan baku luas dengan kualitas yang rendah, memiliki nilai tambah yang
tinggi, ramah lingkungan serta tingkat teknologinya telah dikuasai dengan
baik.
III. ANALISIS ARAH PENGEMBANGAN INDUSTRI
PENGOLAHAN KAYU
Industri pengolahan kayu Indonesia saat ini masih didominasi
oleh industri kayu lapis, penggergajian, pulp dan kertas serta blockboard.
Struktur industri pengolahan kayu Indonesia di masa mendatang dapat dipastikan
berubah sebagai akibat dari keterbatasan sumberdaya hutan sebagai penghasil
kayu, semakin mahalnya harga kayu, tingkat persaingan yang semakin keras serta
adanya tuntutan konsumen akan produk yang ramah lingkungan (green products).
Untuk melihat ke arah mana industri pengolahan kayu sebaiknya
dilakukan, maka ada baiknya digunakan hasil penelitian Litbang Kehutanan dan
Fakultas Kehutanan IPB tentang rangking industri pengolahan kayu Indonesia
ditinjau dari sudut bahan baku, tenaga kerja, gaji, pajak langsung serta nilai
tambah (Tabel 2).
Table 2 Ranking industri pengolahan kayu Indonesia ditinjau
dari sudut bahan baku, tenaga kerja, gaji, pajak langsung dan nilai tambah
|
No.
|
Jenis Industri
|
Rangking berdasarkan kriteria
|
|
Bahan baku
|
Tenaga kerja
|
Gaji
|
Pajak langsung
|
Nilai tambah
|
Jumlah Nilai
|
|
1
|
Plywood |
1
|
8
|
7
|
7
|
8
|
31
|
|
2
|
Sawmill |
2
|
4
|
4
|
3
|
4
|
17
|
|
3
|
Moulding |
3
|
2
|
2
|
2
|
2
|
11
|
|
4
|
Laminated
plywood |
4
|
9
|
9
|
8
|
5
|
35
|
|
5
|
Household
tools |
5
|
5
|
5
|
4
|
6
|
25
|
|
6
|
Core plywood |
6
|
3
|
3
|
1
|
3
|
16
|
|
7
|
Other goods |
7
|
6
|
6
|
6
|
7
|
32
|
|
8
|
Container |
8
|
7
|
8
|
9
|
9
|
41
|
|
9
|
wood Scarf |
9
|
1
|
1
|
5
|
1
|
17
|
|
10
|
Veneer |
10
|
10
|
10
|
10
|
10
|
50
|
Sumber : Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan dan
Fakultas Kehutanan IPB dalam E.G.Togu Manurung and Arrita Suwarno, 1999
(data diolah).
Jika parameter yang diteliti diasumsikan memiliki bobot yang
sama maka penjumlahan nilai yang diperoleh masing-masing jenis industri dapat
mencerminkan tingkat prospeknya dimasa mendatang. Jenis industri yang memiliki
nilai terkecil merupakan jenis industri yang paling prospektus.
Berdasarkan hasil penjumlahan nilai yang diperoleh maka
urutan industri yang paling prospektus adalah moulding, core plywood, sawmill,
wood scarf, house hold, plywood, other goods, laminated plywood, container dan
veneer.
Disamping industri pengolahan kayu tersebut di atas, industri
pengolahan kayu lainnya yang saat ini sedang berkembang di negara lain adalah
MDF, OSB, parallam, glulam, com-ply dan Timber Strand (PSL 300) (T.D. Faust,
1992).
IV. PENUTUP
Saat ini industri pengolahan kayu Indonesia sedang mengalami
kekurangan bahan baku serta dapat dipastikan pula bahwa kondisi ini masih akan
berlangsung dimasa-masa mendatang, bahkan akan semakin parah jika tidak
dilakukan usaha-usaha untuk menanggulangi masalah tersebut.
Dalam rangka meningkatkan supply bahan baku kayu, maka
diupayakan agar HPH mau melakukan pemanenan kayu dengan menggunakan metode full
tree utilization. Industri pengolahan kayu dapat memanfaatkan jenis-jenis
kayu yang tergolong lesser used species/lesser known species, jenis-jenis kayu
berdiameter kecil (kurang dari 50 cm). Untuk itu pemerintah diharapkan dapat
membantu dari segi kebijakan dan perundang-undangan yang mendukung.
Guna mengurangi tingginya demand kayu, khususnya terhadap
kayu-kayu berdiameter besar dan berkualitas tinggi, maka perlu diupayakan
pengembangan industri pengolahan kayu yang efisien dalam pemanfaatan bahan baku,
memiliki spektrum bahan baku yang luas, serta memiliki nilai tambah yang tinggi.
BAHAN RUJUKAN
-
Marimin, M.Y.Massijaya, A. Hermawan, H. Kusnanto,
Muslich, Mudjijanto. 2000. Analisis Supply Demand Hasil Hutan Kayu. Lembaga
Penelitian IPB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan
Produksi Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
-
CIRAD. 1998. Silvicultural Research in a Lowland Mixed
Dipterocarp Forest of East Kalimantan, The Contribution of STREK Project.
CIRAD-forest, FORDA, PT. INHUTANI I. Jakarta.
-
Faust, T. D. 1992. Proceedings of Structural Panels and
Composite Lumber Two Side of the Profit Coin : Processing and
Products/Markets. Atlanta Georgia, USA.
-
Manurung, E.G.T dan Aritta Suwarno. 1999. Prospek
Industri Perkayuan Indonesia Dalam Era Ekolabel. Makalah disampaikan pada
acara diskusi panel tentang Prospek Industri Perkayuan Indonesia Dalam Era
Ekolabel. Jakarta, 29 Nopember 1999.
-
Massijaya, M.Y , B. Tambunan, Y.S. Hadi, E.S. Bakar.
1999. Pengembangan Papan Komposit dari Limbah Kayu dan Plastik. Jurusan
Teknologi Hasil Hutan/. Fakultas Kehutanan IPB.
|